twitter
rss

PEMANFAATAN GULA PASIR SEBAGAI BAHAN BAKU
PEMBUATAN GULALI KAPAS
(Studi Observasi Perusahaan Dua Apel Mas di Jalan Benteng Tengah Nomor 71
Rt 02/Rw02 Kota Sukabumi)


Siapa yang suka makan gulali kapas? Gulali kapas merupakan jajanan manis yang banyak digemari oleh siapa saja, baik tua maupun muda. Siapa yang tidak mengenal jajanan manis ini tentunya sangat disayangkan, karena gulali kapas ini mudah sekali ditemukan dan banyak dijual pada perayaan-perayaan hari besar atau acara festival, harganya pun sangat terjangkau. Gulali kapas ini merupakan makanan ringan yang berasal dari bahan baku gula pasir. Gula pasir ini tentunya berasal dari tebu.
Pada awalnya gulali kapas ini ditemukan oleh William Morrison dan John C. Wharton yang berprofesi sebagai dokter gigi. Mereka menemukan alat pembuat gulali kapas ini pada tahun 1897 dan pada akhirnya makanan tersebut diperkenalkan pada pameran di St. Louis Wolrd’s Fair di Amerika pada tahun 1904. Gulali kapas yang pada saat itu diberi nama fairy floss (benang peri) ternyata mencapai sukses besar dengan keberhasilannya menjual 68.655 kotak dengan harga yang cukup mahal, yaitu setengah harga dari tiket masuk pameran tersebut. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1972 mesin otomatis pembuat gulali kapas ini pertama kali digunakan. Dan hingga saat itu dalam memproduksi gulali kapas menjadi lebih mudah dan juga membuat gulali kapas dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya .
Badan usaha yang memproduksi gulali kapas ini juga ada di Indonesia. Salah satunya ada di Kota Sukabumi tercinta ini, tepatnya di Jalan Benteng Tengah Kota Sukabumi. Sebelum membahas lebih jauh mengenai perusahaan gulali kapas yang ada di Kota Sukabumi, kita pahami dulu perusahaan produksi gulali kapas ini sebagai sektor perusahaan atau badan usaha yang bergerak di bidang kuliner.
Seperti yang kita ketahui, kuliner merupakan salah satu sektor baru industri ekonomi kreatif . Industri kreatif dapat diartikan sebagai kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Industri kreatif juga dikenal dengan nama lain Industri Budaya (terutama di Eropa) atau juga Ekonomi Kreatif.


Kementerian Perdagangan Indonesia menyatakan bahwa Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut .
Konsep ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas, dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Struktur perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era pertanian ke era industri dan informasi .
Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat yang merupakan gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.
Menurut ahli ekonomi Paul Romer (1993), ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih penting dari objek yang ditekankan dikebanyakan model-model ekonomi. Di dunia dengan keterbatasan fisik ini, adanya penemuan ide-ide besar bersamaan dengan penemuan jutaan ide-ide kecil-lah yang membuat ekonomi tetap tumbuh. Ide adalah instruksi yang membuat kita mengkombinasikan sumber daya fisik yang penyusunannya terbatas menjadi lebih bernilai.
Howkins (2001) dalam bukunya The Creative Economy menemukan kehadiran gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari pertama kali bahwa pada tahun 1996 ekspor karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan sebesar US$ 60,18 miliar yang jauh melampaui ekspor sektor lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Menurut Howkins ekonomi baru telah muncul, seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti paten, hak cipta, merek, royalti dan desain.
Ekonomi kreatif merupakan pengembangan konsep berdasarkan aset kreatif yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. (Dos Santos, 2007).
Gula pasir merupakan salah satu komoditi yang bersumber dari alam. Semua orang tentu mengetahui, tebu merupakan bahan baku penghasil gula pasir. Melalui proses yang panjang, tebu yang dipanaskan dan diolah dapat menghasilkan butiran-butiran Kristal gula pasir.
Kata sumber daya alam terbagi menjadi dua kata, sumber daya dan alam. Dalam pengertian umum, sumber daya didefinisikan sebagai sesuatu yang dipandang memiliki nilai ekonomi. Dapat juga dikatakan bahwa sumber daya adalah komponen dari ekosistem yang menyediakan barang dan jasa yang bermanfaat bagi kebutuhan manusia. Grima dan Berkes (1989) mendefinisikan sumber daya sebagai aset untuk pemenuhan kepuasan dan utilitas manusia. Rees (1990) lebih jauh mengatakan bahwa sesuatu yang dapat dikatakan sebagai sumber daya harus memiliki dua kriteria, yakni :
- Harus ada pengetahuan, teknologi atau keterampilan untuk memanfaatkannya.
- Harus ada permintaan terhadap sumber daya tersebut.

Kata alam memiliki arti segala sesuatu yang berasal dari alam. Baik bahan baku, maupun bahan-bahan pelengkap yang diperlukan berasal dari alam. Fauzi (2010) mengungkapkan pengertian sumber daya alam pada bukunya yang berjudul Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Dia menyebutkan bahwa sumber daya alam adalah sebagai segala sumber daya hayati dan non hayati yang dimanfaatkan umat manusia sebagai sumber pangan, bahan baku, dan enerji. Dengan kata lain, sumber daya alam adalah faktor produksi dari alam yang digunakan untuk menyediakan barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi .
Jika dilihat secara umum, gula pasir adalah bahan baku yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok flows (alur). Pada jenis sumber daya ini jumlah kuantitas fisik dari sumber daya dapat berubah sepanjang waktu. Berapa jumlah yang kita manfaatkan sekarang, bisa mempengaruhi atau bisa juga tidak memperngaruhi, terhadap ketersediaan sumber daya alam di masa datang. Dengan kata lain sumber daya jenis ini juga termasuk ke dalam sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable) .
Perlu kita ingat, satu hal yang penting yang mendasar dari aspek ekonomi sumber daya alam adalah bagaimana ekstraksi sumber daya alam tersebut dapat memberikan manfaat atau kesejahteraan kepada masyarakat secara menyeluruh. (Fauzi, 2010).

Setelah kita pahami pengertian dari sektor kuliner, industri ekonomi kreatif, dan sumber daya alam sebagai bahan baku penunjang proses produksi dari suatu badan usaha, sekarang saya akan mengemukakan hasil wawancara dan observasi saya terhadap salah satu badan usaha industri kreatif yang bergerak dibidang kuliner di Kota Sukabumi.
Perusahaan ini bernama Perusahaan Dua Apel Mas. Pemiliknya bernama Hasan Supeno yang lahir pada tanggal 07 Januari 1971 di Kota Pati. Beliau memiliki seorang istri yang bernama Sumira dan dikaruniai 4 orang anak. Perusahaan ini memproduksi gulali kapas yang bersumber dari bahan baku gula pasir. Luas tempat produksi gulali kapas ini adalah kurang lebih 3500 meter persegi.
Pada awalnya, Bapak Hasan ini bekerja pada orang China dan orang Barat selama 10 tahun. Orang cina dan orang Barat tersebut memiliki perusahaan yang beragam, dari mulai gulali manis, properti dan bahkan minuman rasa atau sering kita kenal sebagai sirup. Bekerja lama pada orang China dan orang Barat tersebut membuat Bapak Hasan memiliki beragam keterampilan, pengetahuan dan pengalaman yang baik di dunia usaha atau bisnis. Menjadi pekerja dari orang China dan orang Barat, Bapak Hasan belajar bagaimana menjadi seorang pengusaha/pebisnis yang baik dan sukses. Disiplin, giat bekerja, dan tidak mudah putus asa adalah modal awal yang harus dimiliki pada diri setiap pengusaha/pebisnis.
Karena sudah memahami dunia bisnis sejak lama dari hasil pengabdian bekerjanya kepada orang China dan orang Barat, Bapak Hasan berkeinginan mencoba membuka usaha sendiri (wiraswasta). Alasan kenapa Bapak Hasan ingin membuka usaha sendiri adalah Beliau ingin sesukses pimpinannya orang China dan orang Barat tersebut, Beliau juga ingin membuktikan bahwa dalam memproduksi gulali kapas ini, tidak perlu ahli dari luar negeri, anak bangsa Indonesia pun bisa.
Seperti yang kita ketahui secara sederhana, wirausahawan adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha sendiri dalam berbagai kesempatan . Namun pada kenyataannya tidak mudah memang membuka usaha sendiri. Dalam mengubah pola pikir pun untuk memulai suatu usaha bukan pekerjaan mudah. Banyak kendala yang menghadang, mulai dari masalah mental takut rugi, motivasi, bakat, soal keluarga, dana, pengalaman, dan pengelolaan yang berlum terkuasai dengan baik .




Ada beberapa langkah yang perlu kita cermati sebagai langkah awal dalam berwirausaha, yaitu :
- Berani memulai
- Berani menanggung resiko (tidak takut rugi)
- Penuh perhitungan
- Memiliki rencana yang jelas
- Tidak cepat puas dan tidak cepat putus asa
- Optimis dan penuh keyakinan
- Memiliki tanggung jawab
- Memiliki etika dan moral

Dari hasil wawancara dan observasi saya dengan Bapak Hasan, saya berpendapat bahwa Bapak Hasan telah melaksanakan seluruh langkah-langkah tersebut dalam berwirausaha.

Selain langkah-langkah di atas, ada contoh baik yang datang dari saudara kita, etnis Thionghoa. Menurut saya, kita perlu belajar etnis Tionghoa. Mereka memiliki pola pikir yang berbeda dari etnis kebanyakan. Sejak kecil mereka sudah ditanamkan dan diajarkan pengetahuan dan praktik dalam berwirausaha. Alasan mereka mau dan mampu berwirausaha adalah karena mereka tidak ingin diperintah orang lain dalam pekerjaan mereka. (Kasmir, 2007).
Apa yang diungkapkan Kasmir di atas sama persis dengan apa yang dikatakan Bapak Hasan. Sebagai bekas pekerja dari orang China dan orang Barat, Bapak Hasan dididik untuk disiplin, patuh, giat, ulet dan tidak putus asa pada pekerjaan yang dia lakukan. Dan prinsip etnis Thionghoa yang tidak ingin diperintah orang lain juga menerap pada diri Bapak Hasan, sehingga pada tahun 1986, beliau mantap mengundurkan diri dari pekerjaannya. Namun, pemimpin beliau tidak menyetujui rencana pengunduran diri yang dilakukan Bapak Hasan. Oleh karena itu, secara diam-diam Bapak Hasan membuka usaha sendiri walaupun tidak ada dukungan dari pemimpinnya.


Bidang usaha pertama yang dijalankan Bapak Hasan di Kota Sukabumi adalah restoran, namun kemajuan restoran di Kota Sukabumi sulit berkembang. Sehingga usaha pertama yang dijalankan Bapak Hasan ini mengalami kegagalan. Kegagalan pada usaha pertama Bapak Hasan tersebut tidak meciutkan semangat dan keyakinan Bapak Hasan dalam berwirausaha.
Karena sebelumnya pernah bekerja pada orang Barat di pabrik pembuatan gulali kapas. Bapak Hasan pun mencoba untuk yang kedua kalinya membuka usaha sendiri dibidang jajanan manis tersebut. Pengalaman bekerja yang cukup lama tentu membuat pengetahuan dan keterampilan dalam membuat mesin dan memproduksi gulali kapas tersebut tidak hilang begitu saja. Peluang kemajuan usaha dalam bidang produksi gulali kapas ini diperkirakan dapat berkembang baik, mengingat pesaing pembuat gulali kapas yang sedikit. Tepat pada tahun 1997, perusahaan produksi gulali kapas milik Bapak Hasan pun terbentuk.
Dilihat dari jenis badan usahanya, Menurut saya, pabrik milik Bapak Hasan ini termasuk ke dalam jenis badan usaha perseorangan. Karena sesuai dengan pengertiannya dimana perusahaan ini milik pribadi. Modal dimiliki oleh perorangan. Pendirian perusahaan pun sangat sederhana dan relatif tidak memerlukan modal besar. Perusahaan perseorangan biasanya dipimpin oleh pemilik usaha yang sekaligus menjadi penanggung jawab atas segala aktivitas perusahaan, termasuk kewajibannya terhadap pihak luar .
Rencana pengunduran diri Bapak Hasan dari tahun 1986 hingga membuka sendiri perusahaan produksi gulali kapas ini masih belum didukung sepenuhnya orang pemimpin beliau. Namun begitu, pemimpin beliau yang berasal dari orang Barat, begitu mengetahui Bapak Hasan membuka usaha produksi sendiri gulali kapas Ia pun ikut membantu dengan memberikan satu buah mesin penghasil gulali kapas. Mesin tersebut dititipkan di Jakarta dan tanpa menunggu waktu yang lama, Bapak Hasan pun segera ke Jakarta untuk mengambil mesin yang dapat memproduksi gulali kapas tersebut.
Sejak diproduksinya gulali kapas ini oleh Bapak Hasan, dari tahun ke tahun mengalami kemajuan, dari awal produksi menggunakan satu mesin kini menjadi lima mesin. Keempat mesin yang baru ini, bahan-bahannya dibuat sendiri oleh Bapak Hasan. Walaupun tidak menggunakan bahan stainless stell namun kualiatasnya masih terjamin. Akan tetapi, alat-alat inti pada mesin memang dibeli karena sulit dibuat sendiri.

Setelah mengalami kemajuan dalam bidang usaha produksi gulali kapas ini, Bapak Hasan pun melaporkan perkembangan usaha yang dibentuknya, dan mantap kembali mengundurkan diri pada pemimpin beliau. Pemimpin beliau yang semula selalu menolak permintaan pengunduran diri beliau, mendengar cerita Bapak Hasan dalam usahanya membuka perusahaan sendiri, akhirnya mendukung dan memberikan merek pada perusahaan baru Bapak Hasan. Merek tersebut adalah Dua Apel Mas, merek itulah yang digunakan sebagai nama perusahaan produksi gulali kapas beliau.
Dalam membicarakan proses produksi, tentunya di dalamnya akan terjadi proses pengolahan. Begitu juga dengan pengolahan gulali kapas ini. Langkah awal proses pembuatan gulali kapas ini adalah pengolahan gula menjadi kapas. Dalam memilih gula sebagai bahan baku pembuatan gulali kapas, Bapak Hasan memilih gula dengan kualitas terbaik. Karena Beliau berkeyakinan apa yang dibuat oleh bahan-bahan yang baik dan berkualitas. Tentunya akan menghasilkan barang yang baik dan berkualitas pula. Setelah pemilihan gula pasir yang mutunya terjamin, gula pasir tersebut dimasukkan ke dalam baskom besar dan diberi pemanis rasa yang bersetifikasi halal dari MUI dan memiliki ijin dari DepKes. Hal tersebut juga berlaku untuk pewarna makanan. Setelah gula pasir dan pewarna serta pemanis diaduk rata. Maka gula dimasukkan ke dalam alat atau mesin pembuat kapas dengan takaran tertentu. Dengan bantuan litrik, mesin-mesin penghasil gulali kapas pun bekerja. Bentuk gula yang asalnya butir-butir Kristal menjadi gulungan kapas yang terasa manis dan terlihat cantik. Setelah itu, gulungan gulali kapas tersebut dibentuk sedemikian rupa dan dimasukkan ke dalam cup dan diberi segel agar kebersihan, mutu, dan rasanya tetap terjaga.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa perusahaan gulali kapas yang dijalankan Bapak Hasan ini menggunakan bahan baku yang berasal dari sumber daya alam. Jelas sekali terlihat kegiatan pemanfaatan yang dilakukan Beliau sangat bersifat positif dan tidak termasuk kedalam ekspoitasi. Alasannya, bahan baku (gula pasir) yang digunakan tidak diambil secara berlebihan namun digunakan sesuai kebutuhan. Proses pembuatan gulali kapas ini juga menambah keberagaman jenis makanan ringan yang ada di Indonesia, dimana siapapun dapat mencicipinya.


Pada tahap pembuatan produk gulali kapas ini jika dilihat dari sisi perancangan produk baru dapat ditinjau dari dua sisi :
• Produk baru yang benar-benar baru (hasil inovasi)
• Produk baru yang merupakan hasil modifikasi, perbaikan maupun penyempurnaan dari produk yang sudah ada.

Dilihat dari proses dan alasan terbentuknya perusahaan gulali kapas ini, maka saya simpulkan bahwa perusahaan milik Bapak Hasan ini termasuk kedalam sisi produk baru yang merupakan hasil modifikasi, perbaikan maupun penyempurnaan dari produk yang sudah ada.

Utterback (1971) juga mengungkapkan proses inovasi dalam suatu perusahaan terdiri dari tiga fase, yaitu:
o Pembuatan ide
o Pemecahan masalah
o Implementasi
Dalam konteks inovasi, fase 1 dan 2 disebut dengan invention. Untuk menghasilkan invention dibutuhkan kreasi dan pengembangan ide-ide baru. Kreasi dan pengembangan ide-ide baru membutuhkan kreatifitas. Kreatifitas adalah kemampuan berfikir bersosiasi (kemampuan menghubungkan fenomena yang telah ada) .
Dalam memproduksi suatu produk, tentunya kita perlu mempertimbangkan apa yang diinginkan konsumen. Jika dilihat dari pendekatan konsumen, perusahaan Bapak Hasan ini menurut saya termasuk kedalam pendekatan tidak terstruktur konsumen dengan tipe motivation research.
Dimana studi ditunjukkan untuk menggali dasar kebutuhan konsumen, motif kecenderungan, sensasi, pikiran, dan emosi. Studi ini dapat dilakukan dengan wawancara untuk mengidentifikasi kebutuhan dan motif konsumen . Kesimpulannya, Bapak Hasan ini membuat produk gulali kapas ini karena pada tahun 1997 usaha tersebut menjanjikan dan tentu saja belum ada pesaingnnya. Sehingga motif kecenderungan konsumen untuk membeli produk akan tinggi.

Sedangkan bila dilihat dari jumlah barang yang diproduksinya, perusahaan Dua Apel Mas ini termasuk ke dalam home industry menengah. Alasanya, barang produksi yang dihasilkan masih sedikit dan masih dipengaruhi oleh jumlah pekerja yang membuatnya. Sehingga saya kategorikan kedalam home industry menengah.
Dalam proses produksi pada perusahaan gulali kapas Dua Apel Mas ini, mulanya tidak menggunakan cup/kemasan dan segel pengaman. Namun kemasan yang dibuat polos dan biasa saja. Dan pekerjanya pun hanya dua orang saja, yakni Bapak Hasan dan supir pribadi Bapak Hasan sewaktu bekerja pada orang China dan orang Barat. Supir tersebut ikut dan bekerja lama pada Bapak Hasan. Hal positif yang perlu dicontoh oleh kita dari salah satu tindakan Bapak Hasan ini adalah, dalam setiap memproduksi barang baik makanan, atau apapun sebaiknya langsung mendaftarkan. Agar terhindar dari masalah perijinan yang sering dialami oleh badan usaha yang ada saat ini.
Dalam memproduksi gulali kapas ini, pada awal perusahaan ini terbentuk, Bapak Hasan hanya memiliki 1 orang pekerja saja. Namun dengan perkembangan dan kemajuan yang dirasakan perusahaan tersebut, selain mesin yang bertambah 4 buah, pekerja pun bertambah menjadi 14 orang. Sehingga jika ditotalkan jumlah pekerja yang ada saat ini adalah 15 orang.
Jika diperkirakan pada saat proses produksi menggunakan 5 buah mesin pembuat gulali kapas dengan pekerja 15 orang, maka diperkirakan satu hari dapat menghasilkan kurang lebih 3600 cup – 4000 cup gulali kapas. Satu cup/kemasan gulali kapas ini diberi harga Rp 500,-. Jika membeli satu pak yang berisi 20 cup, maka harga yang ditawarkan lebih murah yakni Rp 7000,-.
Berjalannya perusahaan Dua Apel Mas ini tidak semulus jalan tol. Banyak kendala yang dihadapi oleh Bapak Hasan. Beberapa diantaranya adalah kendala yang muncul dari lingkungan sekitar. Karena Bapak Hasan Supeno ini asli Kota Pati dan bukan orang pribumi Kota Sukabumi, khususnya warga daerah Benteng, banyak yang merasakan iri dan tidak menyukai kesuksesan yang dirasakan Bapak Hasan. Sehingga tidak jarang masyarakat di daerah Benteng yang datang kepada beliau untuk meminjam uang dan mengancam jika tidak diberikan pinjaman. Kendala lain yang dirasakan oleh Bapak Hasan adalah bahwa gulali kapas ini merupakan makanan musiman. Dimana pada perayaan hari-hari besar, atau jika ada festival atau kegiatan tertentu saja yang ramai terjual. Kemudian permasalahan lainnya adalah permasalahan pada perekrutan para pekerja. Hal ini yang dirasakan Bapak Hasan sebagai penghambat dalam kegiatan produksi gulali kapas ini. Beliau berpendapat bahwa sulit mendapatkan pekerja di Kota Sukabumi.
Karena para pekerja di Kota Sukabumi kini lebih tertarik bekerja di garmen/di perusahaa China dibandingkan perusahaan lokal. Padahal gaji yang diberikan tidak jauh berbeda.
Setelah membicarakan proses pemanfaatan, pengolahan dan proses produksi, sekarang saya akan mengemukakan proses pemasaran atau proses distribusi perusahaan ini. Sebelumnya kita cermati pengertian pemasaran yang dikemukakan ahli pemasaran, yakni Philip Kotler, menurutnya pemasaran adalah Suatu proses sosial dan manajerial dengan mana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhka dan inginkan dengan cara menciptakan serta mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain .
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa pemasaran adalah usaha untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen melalui penciptaan produk, baik barang atau jasa yang kemudian dibeli oleh mereka yang memiliki kebutuhan melalui suatu pertukaran. (Kasmir, 2007).
Proses pemasaran juga dilakukan oleh Bapak Hasan dalam mengembangkan barang produksinya. Awal pertama pemasaran yang dilakukan perusahaan gulali kapas ini dirasa Bapak Hasan sangat menyedihkan. Beliau memasarkan gulali kapas yang dibungkus plastic polos tanpa merek tersebut ke seluruh pasar di Kota Sukabumi, dan hanya 5 toko dari seluruh pasar yang ada di Kota Sukabumi yang mau menerima barang gulali kapasnya dipajang dan dijual belikan di tokonya.
Meskipun sering ditolak berkali-kali oleh pasar yang sama pada saat memasarkan barang produksinya, Bapak Hasan tetap tidak putus asa. Beliau yakin beginilah resiko barang baru, belum dikenal orang jadi memang banyak yang menolak. Namun jika sudah dikenal, Beliau yakin, barang dagangannya akan diperebutkan.
Benar saja apa yang diyakini oleh Bapak Hasan tersebut, terjadi pada beberapa waktu selanjutnya. Barang yang dipasarkannnya kini banyak dicari orang. Bahkan muncul agen-agen dan grosir yang menawarkan tokonya sebagai tempat distribusi penjualan produk beliau. Dengan kemajuan dan perkembangan yang dirasakan, maka Bapak Hasan pun segera mempercantik tampilan barang produksinya. Gulali kapasnya kini ditempatkan pada cup kecil dan diberi segel, agar mutu dan kualitasnya terjaga.


Dalam usaha, memang tidak akan selalu terasa manis seperti rasa gulali kapas yang diproduksi Bapak Hasan ini. Permasalahan yang muncul adalah banyaknya barang sisa dari hasil barang permintaan. Misalnya suatu pasar meminta 50 pak gulali kapas dan ternyata yang terjual habis hanya 30 pak saja, dan yang 20 pak nya menjadi barang sisa.
Menurut Bapak Hasan suatu gulali kapas dikategorikan barang sisa jika gulali kapas yang berada pada cup tersebut menciut dan tidak lagi mengembang. Hal ini tentu saja berdampak pada kerugian yang dialami pada proses produksi.
Sebagai perusahaan produksi, hal tersebut tentu amat diperhitungkan oleh Bapak Hasan. Lain halnya dengan pedagang/pasar-pasar yang selama ini hanya berperan mendagangkan/menjualkan barang produksi, tentu tidak akan menjadi permasalahan bagi mereka. Namun kreatifitas yang muncul dalam pikiran Bapak Hasan ini tidak habis begitu saja. Beliau berfikir, bagaimana barang sisa ini bisa kembali menghasilkan uang dan meminimalisir kerugian yang dirasakan.
Karena kemasan / cup gulali kapas yang bersih, maka dalam menjual kembali pun tidak sulit. Misalnya, kemasannya/cup nya bisa dijual kembali ke pengumpul barang-barang plastik dengan harga Rp 6000/kg. Kualitas dari gulali kapas ini pun juga terjaga, maka dapat dipastikan mutunya pun ikut terjaga walaupun setelah beberapa waktu kemudian bentuknya berubah menjadi menciut. Untuk gulali kapas yang sudah tidak bisa lagi mengembang/sudah menciut, maka dibutlah permen dari gulali kapas tersebut. Permen tersebut dihasilkan dari proses pengolahan beberapa gulali yang menciut. Jangan salah, permen gulali kapas ini juga amat digemari oleh anak-anak ataupun orang dewasa. Menurut Bapak Hasan, inilah positifnya jika kemasan makanan, dijaga kebersihan dan kualitasnya.

Didasari dari pengalaman berjualan yang tidak sebentar, Bapak Hasan memiliki strategi unik dalam mengatasi dan mengurangi jumlah barang sisa dari para pedagang di pasar. Beliau menerapkan sistem pemberian terbatas pada tiap pasar. Misalnya, suatu pasar meminta 100 pak barang produksi, maka Beliau akan memberikan 50 pak saja. Kemudian, jika suatu toko menghubungi beliau dan meminta dikirimkan barang produksinya, beliau akan segera memerika apakah pasar tempat toko tersebut barang produksinya sudah benar-benar habis terjual, atau hanya pada toko tersebut saja yang habis.

Jika hanya pada toko tersebut yang habis, maka Beliau tidak akan memberikan barang produksinya, namun akan menunggu sampai barang produksi pada pasar tersebut benar-benar habis. Hal tersebut yang dianggap Bapak Hasan dapat menekan dan meminimalisir jumlah kerugian yang didapat dari barang sisa.
Dulu, perusahaan gulali kapas milik Bapak Hasan ini tidak ada pesaingnya. Namun, seiring perkembangan waktu dan kemajuan ilmu teknologi informasi muncul perusahaan yang bergerak dibidang yang sama, yakni bergerak di bidang produksi gulali kapas ini. Namun, menurut Pak Hasan, perusahaan tersebut bekerjasama dengan pihak luar negeri dalam memproduksinya. Sedangkan perusahaan miliknya, asli buatan warga Indonesia, yakni Bapak Hasan Supeno. Dalam menyikapi munculnya pesaing, Bapak Hasan tidak merasakan gentar, atau takut, Beliau malah senang adanya pesaing. Beliau merasa semakin termotivasi dan merasa untuk lebih giat dalam bekerja dan memasarkan barang produksinya.
Sebagai inovasi dalam berwirausaha, sekaligus sebagai sikap dalam menghadapi pesaing. Bapak Hasan membuka usaha baru yakni Tahu Bulat, Pangsit, dan Baso dengan beragam jenis rasa dan nama yang unik. Usaha barunya ini telah mengalami kemajuan yang berkembang secara baik. Dari awal menjualkan hanya dengan 1 gerobak saja, kini sudah 25 gerobak yang tersebar di berbagai titik strategis di Kota Sukabumi. Tentu saja membuka usaha baru tersebut, tidak membuat Bapak Hasan melalaikan pengelolaan perusahaan gulali kapasnya ini.
Setiap barang produksi tentu memiliki keunggulan dan kelemahan. Hal tersebut, juga diakui oleh Bapak Hasan Supeno, pemilik perusahaan Dua Apel Mas. Beliau mengemukakan keunggulan dan kelemahan barang produksinya tersebut, yaitu:
a. Keunggulan
• Sudah mendapatkan merek dan tempat di masyarakat, sehingga jika ingin memasarkan tidak perlu takut tidak terjual.
• Kapas gulali yang dihasilkan memiliki tekstur lembut dibandingkan gulali kapas lainnya, karena terbuat dari bahan baku yang berkualitas.
• Rasanya enak, manis alami, tidak pahit dan wangi. Hal ini dikarenakan karena Bapak Hasan menggunakan pemanis dan pewarna yang berkualitas dan terjamin mutunya.
• Tidak menggunakan bahan pengawet.
• Barang sisa ditanggung oleh perusahaan.
• Kemasan gulali kapas menarik, bersih, dan mutunya terjamin.
b. Kelemahan
• Karena tidak menggunakan pengawet maka dalam waktu kurang lebih 3 minggu, maka gulali kapasnya tidak lagi mengembang dan meciut.

Suatu perusahaan dibidang apapun selayaknya harus memiliki pengaruh terhadap pemberdayaan masyarakat. Konsep pemberdayaan tidak hanya mengarah secara individual, tetapi juga secara kolektif. Semua itu harus menjadi bagian dari aktualisasi diri dan koaktualisasi eksistensi manusia dan kemanusiaan . Konsep pmberdayaan pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif-efisien secara struktural, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, Negara, regional, maupun internasional. (Pranarka dan Vidhyandika, 1996) .
Jika dilihat dari konsep pemberdayaan yang dikemukakan di atas, menurut saya Perusahaan gulali kapas Dua Apel Mas ini sudah termasuk dikategorikan perusahaan yang memberdayakan masyarakat. Alasannya, dengan munculnya perusahaan tersebut membuka lapangan pekerjaan baru bagi setiap orang yang ingin bekerja baik pria maupun wanita, khususnya yang kurang memiliki keterampilan dan pengetahuan dalam bekerja. Untuk bisa bekerja di perusahaan ini tidak diperlukan sertifikat dari lembaga pendidikan manapun, jadi yang tidak bersekolah pun memiliki kesempatan dalam bekerja. Namun tentu saja dalam pemberian gaji pekerja, akan berbeda antara yang memiliki skill/keterampilan dan pengatahuan dengan yang tidak sama sekali.












KESIMPULAN

Gula merupakan salah satu bahan baku yang berasal dari alam. Pemanfaatan gula dalam kehidupan manusia sehari-hari biasanya hanya digunakan sebagai bahan pelengkap pada suatu masakan. Namun, dengan kreatifitas yang dimiliki manusia gula dapat diolah menjadi makanan ringan yang bisa dimakan langsung tanpa campuran makanan lain. Salah satu inovasinya adalah gulali kapas. Walaupun gulali kapas pertama kali ditemukan oleh orang Amerika, orang Indonesia pun tidak kalah dalam membuat inovasi dalam memproduksi gulali kapas ini. Perusahaan gulali kapas Dua Apel Mas milik Bapak Hasan Supeno adalah buktinya.
Pada awalnya memang Bapak Hasan ini bekerja pada orang China dan orang Barat, namun beberapa waktu kemudian Beliau berfikir untuk bisa membuka perusahaan sendiri/berwirausaha. Dengan tujuan agar membuktikan bahwa orang Indonesia bisa menjadi pengusaha/pebisnis yang sukses tanpa harus diperintah/dipekerjakan orang lain. Keteguhan dan keterampilan yang dimiliki Bapak Hasan dalam membuat mesin yang bisa merubah bentuk butiran-butiran Kristal gula pasir menjadi gulungan kapas manis, dapat menggambarkan bahwa orang Indonesia sebetulnya mampu mencipta suatu alat bila diiringi dengan tekad dan keyakinan yang kuat.
Dalam pemasaran suatu barang produksi dalam sektor manapun di industri kreatif memang tidak akan mudah. Hal ini juga dialami oleh Bapak Hasan dalam memasarkan barang produksinya pertama kali. Penolakan-penolakan yang Beliau terima dari banyak toko yang ada di pasar Kota Sukabumi terhadap barang produksinya tidak menciutnya keyakinan Bapak Hasan dalam berwirausaha. Inilah yang harus ada dimiliki pada setiap pelaku ekonomi kreatif. Pelaku ekonomi kreatif yang sejati adalah pengusaha yang memiliki keyakinan dan tekad kuat dalam menghasilkan produk-produk baru yang inovatif dengan berani mengambil resiko apapun dan tidak mudah putus asa.
Terbentuknya perusahaan milik Bapak Hasan yang tepat berada di Jalan Benteng Tengah ini tentu berdampak positif terhadap masyarakat setempat. Kesempatan bekerja bagi para warga di daerah tersebut terbuka lebar. Baik dari golongan pria dan wanita. Tentunya hal ini juga berdampak positif terhadap kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat setempat.



A. Kritik
Dari hasil wawancara dan observasi yang saya lakukan, saya akan mengemukakan kritik terhadap produk gulali kapas milik Bapak Hasan ini, yakni:
• Menurut saya, pada pemberian merek produk sebaiknya Bapak Hasan ini tidak terlalu bergantung kepada merek pemberian pemimpin Bapak Hasan yang berasal dari China dan Barat itu.
• Segel penutup cup/kemasan gulali kapas ini tidak sesuai dengan isi produk. Dapat dilihat dari dokumentasi yang saya ambil, bahwa segel yang menutupi rapat cup/kemasan gulali kapas ini bertuliskan produk minuman. Sedangkan yang jelas kita ketahui, bahwa ini adalah produk makanan ringan gulali kapas.
• Tidak adanya pencantuman lebel pada cup/kemasan gulali kapas ini, hal ini menyebabkan ketidaktahuan konsumen terhadap nilai gizi yang terkandung pada gulali kapas ini.
• Walaupun tidak menggunakan bahan pengawet, suatu produk makanan yang baik adalah selalu mencantumkan batas terakhir produk tersebut dapat dimakan. Dari pengalaman kerja Bapak Hasan, tentunya Bapak Hasan bisa memperhitungkan batas kondisi baik dari gulali kapas tersebut. Dari sejak diproduksi hingga kapan produk gulali kapas ini menciut atau tidak lagi mengembang.

B. Saran
Dari kritik yang telah saya kemukakan di atas, saya akan memberikan saran sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan permasalahan dan membantu mengembangkan produk gulali kapas ini.
Pada kritik yang pertama, yakni penggunaan merek yang diberi dari bekas pimpinan Bapak Hasan. Saran saya, sebagai pelaku ekonomi kreatif yang sejati, seharusnya Bapak Hasan ini membuat merek sendiri pada produk gulali kapas tersebut. Saya rasa suatu merek akan dapat dikenal orang banyak bila memiliki kualitas yang baik. Jika kita lihat usaha dan upaya yang dilakukan Bapak Hasan dalam menjaga mutu dan kualitas barang produksinya, seharusnya Bapak Hasan tetap percaya diri dalam membuat merek sendiri.
Pada kritik yang kedua, yakni ketidaksesuaian penamaan segel penutup cup/kemasan gulali kapas ini. Saran saya, dengan keuntungan dan pendapatan yang didapat dari hasil produksi gulali kapas, seharusnya Bapak Hasan ini bisa membuat sendiri desain dan penamaan pada segel penutup cup/kemasan gulali kapas ini.
Selain menambah nilai jual dari produk yang dihasilkan, masyarakatpun akan mengingat nama khas yang diberikan pada produk gulali kapas ini karena memang identitas yang dicantumkan adalah identitas yang sebenarnya. Selain itu, dengan kesesuaian produk dan nama yang tertera pada segel, akan meningkatkan kepercayaan konsumen dalam membeli produk gulali kapas ini.
Pada kritik yang ketiga, yakni tidak adanya pencantuman label. Sebelum saya memberikan saran, kita pahami terlebih dahulu peran label makanan dalam memberi informasi nilai gizi pada pangan.
Secara definitif, label bermakna tulisan, tag, gambar atau deskripsi lain yang tertulis, dicetak, distensil, diukir, dihias atau dicantumkan dengan jalan apapun, pemberian kesan yang melekat pada suatu wadah atau pengemas. Label berfungsi sebagai alat penyampai informasi, alat promosi perusahaan, dan juga sebagai sarana komunikasi antara produsen dan konsumen. Oleh karena itu, sudah selayaknya informasi yang dimuat pada label adalah sebenar-benarnya dan tidak menyesatkan. Tujuan dari pencantuman label ini adalah untuk memberikan informasi kepada konsumen tentang nilai kandungan gizi yang terkandung dalam suatu produk makanan .
Penjelasan di atas sangat menegaskan pentingnya pencantuman label pada setiap produk makanan. Hal ini berlaku juga pada produk gulali kapas milik Bapak Hasan ini. Sebelumnya, Bapak Hasan ini kan sudah mendaftarkan produknya pada Departemen Kesehatan, Saran saya, mintalah DepKes tersebut menilai kandungan gizi yang terkandung dalam produk gulali kapas ini. Pencantuman label ini tentu akan berdampak positif terhadap respon konsumen, karena kita dengan benar dan berani mencantumkan nilai gizi yang terkandung dalam produk yang kita buat.
Pada kritik yang keempat, yakni tidak adanya pencantuman batas akhir digunakannya/dikonsumsinya produk. Sama halnya dengan pencantuman label, pencantuman batas akhir dikonsumsinya produk juga memegang peranan penting. Saran saya, untuk meningkatkan kualitas pada produk gulali kapas ini, Bapak Hasan sebaiknya memberitahukan kepada konsumen batas akhir dikonsumsinya produk tersebut atau batas akhir kondisi baik dari produk gulali kapas ini. Sehingga bukan hanya dari produk yang berkualitas, namun dalam pemberian informasi pun akurat. Hal ini tentu akan meningkatkan kepercayaan konsumen dalam membeli produk ini.

DAFTAR PUSTAKA

Fauzi, Akhmad. 2010. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ginting, Rosnani. 2010. Perancangan Produk. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Hikmat, R. Harry. 2004. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung : Humaniora Utama.

Kasmir. 2007. Kewirausahaan. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Tejasari. 2005. Nilai Gizi Pangan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Media Online :
-. 2013. Industri Kreatif. Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Industri_kreatif. Diakses pada 01 Februari 2014.

Arif. -. Ekonomi Kreatif. Tersedia : http://arifh.blogdetik.com/ekonomi-kreatif/. Diakses pada 01 Februari 2014.

Rara. 2013. Manisnya Gulali Si Permen Kapas. Tersedia : www.kenapasih.com/manisnya-gulali-si-permen-kapas/. Diakses pada 01 Februari 2014.

0 komentar:

Posting Komentar